www.AlvinAdam.com

Berita 24 Nusa Tenggara Timur

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

TPDI Minta Napiter Tidak Ditahan di NTT

Posted by On 07.49

TPDI Minta Napiter Tidak Ditahan di NTT

Siprianus Edi Hardum / EHD Sabtu, 19 Mei 2018 | 12:06 WIB

Jakarta â€" Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) meminta Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Kapolri agar tahanan dan narapidana (napi) terorisme (napiter) tidak ditahan di lembaga pemasyarakatan (lapas) dan rumah tahanan (rutan) di NTT. Pasalnya di NTT banyak gereja yang merupakan aset yang menjadi incaran teroris.

“Para napiter ini pasti mempunyai hubungan dengan mantan anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang organisasinya telah dibubarkan pemerintah,” kata Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI), Petrus Selestinus, di Jakarta, Sabtu (19/5). “Kebijakan titipan ini harus distopkan dan segera pulangkan ke Lapas Jakarta dan/atau Lapas Nusakambangan,” kata Petrus.

Selain itu, Petrus meminta agar Pemerintah Provinsi NTT koordinasi den gan pemerintah kabupaten dan kota se-NTT bersama aparat keamanan terutama Polri agar mendata kembali aktivitas mantan pengurus dan anggota HTI di NTT. Hal ini terkait dengan penempatan sejumlah napiter sebagai titipan di sejumlah Lapas dan Rutan di NTT.

Menurut Petrus, hal itu perlu dilakukan karena dikhawatirkan terjadi koneksi antara napiter di sejumlah Lapas dan Rutan di NTT dengan para mantan anggota dan pengurus HTI di NTT, membangun sinergi untuk melanjutkan ideologi khilafah pasca pembubaran HTI.

“Basis penyebaran dan penguatan sel-sel jaringan teroris di NTT diduga bisa dilakukan melalui tiga komponen relasi yaitu melalui oknum para mantan anggota dan/atau pengurus HTI di NTT, Partai Politik yang aktif mendukung HTI dan napi teroris titipan melalui kunjungan keluarga pada waktu berkunjung para napi di Lapas dan/Rutan di NTT,” kata dia.

Menurut Petrus, dalam kondisi seperti ini, maka diperlukan gerakan bersama untuk memotong mata rantai hubungan antar a napiter dengan para mantan anggota dan pengurus HTI di NTT di satu pihak dan aktivitas Partai Politik pendukung HTI di pihak yang lain di NTT.

“Langkah ini perlu dilakukan karena tidak tertutup kemungkinan aksi-aksi bom bunuh diri yang akhir-akhir muncul kembali, dikhawatirkan menyasar juga ke gereja-gereja di NTT karena Jakarta - Surabaya dan kota-kota besar lainnya sudah dikuasasi oleh personil Polri dan TNI,” kata Petrus.

Menurut Petrus, NTT bisa dijadikan alternatif daerah plihan untuk bersembunyi (bunker), sekedar menunjukan eksistensinya bahwa mereka tetap ada dan mampu mengancam siapa pun termasuk di NTT. Karena itu NTT bisa menjadi salah satu target gerakan teroris, karena di sana banyak gereja yang tidak dijaga secara ketat sepertihalnya gereja-gereja di kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Petrus mengatakan, keberadaan napiter di sejumlah Lapas dan Rutan di NTT baru diungkap oleh Gubernur NTT Frans Lebu Raya di Kupang pada tanggal 15 Mei 2018. â €œIni sungguh mengagetkan kita semua, karena kebijakan penempatan napiter di NTT justru mendekatkan para teroris dengan obyek-obyek yang selama ini menjadi target teroris yaitu gereja dan kantor polisi yang pengamanannya longgar. Ini jelas kebijakan yang sangat keliru karena akan mengancam kerukanan hidup umat beragama yang berdampingan secara damai yang selama ini terpelihara dengan sangat baik di NTT. Apalagi kemampuan personil Polri di NTT masih jauh dari memadai, karena yang dihadapi adalah teroris terlatih bukan dengan penjahat kampung,” kata dia.


Sumber: Suara Pembaruan Sumber: Google News | Berita 24 NTT

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »