www.AlvinAdam.com

Berita 24 Nusa Tenggara Timur

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Australia Harus Malu pada Orang Timor, Dubes Baru Perlu Waspada

Posted by On 18.56

Australia Harus Malu pada Orang Timor, Dubes Baru Perlu Waspada

heri s / HS Selasa, 29 Mei 2018 | 07:50 WIB

Jakarta - Bangsa Australia seharusnya malu pada orang Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang telah merelakan Bandara Penfui Kupang sebagai basis pertahanan menghadang pasukan Jepang dalam Perang Dunia II. Terkait dengan itu, Gary Quinlan yang baru saja menjadi Duta Besar Australia untuk Indonesia perlu lebih waspada dan cermat dalam menjalin diplomasi dengan Indonesia.

"Australia masih banyak berhutang budi pada rakyat NTT di Timor Barat, Rote Ndao dan Sabu yang telah merelakan nyawanya untuk bangsa Australia saat Perang Timor (Battle of Timor) pada 1941 dalam kancah PD II itu," kata pemerhati masalah Laut Timor Ferdi Tanoni dalam keterangan tertulis yang di terima, Senin (28/5).

Dikatakan, catatan sejarah Australia tentang Battle of Timor 1941 disebutkan ketika pasukan sekutu pimpinan Australia melawan Jepang, tercatat sekitar 30.000-70.000 orang Timor mati sia-sia dalam perang tersebut. Bahkan, banyak isteri orang Timor yang diperkosa saat itu.

"Ini bukti kesetiaan orang Timor pada Australia, tetapi bangsa Australia tidak pernah merasa malu terhadap orang Timor yang tidak pernah melakukan ganti rugi atas kerugian yang dialami akibat wilayah perairan Laut Timor tercemar minyak mentah," ujarnya.

Seperti diketahui, hampir 90 persen wilayah perairan Indonesia di Laut Timor tercemar akibat meledaknya anjungan minyak Montara di Blok Atlas Barat Laut Timor pada 21 Agustus 2009. Anjungan minyak Montara milik PTTEP asal Thailand serta penyemprotan bubuk kimia dipersant yang sangat berbahaya oleh Otoritas Keselamatan Maritim Australia (AMSA) ikut memperburuk dan merusak ekologi lingkungan serta kesehatan masyarakat pesisir di kepulauan NTT.

Terkait dengan itu, Ferdi menegaskan agar pemerintah A ustralia perlu lebih bertanggung jawab. Tidak saja soal pencemaran Laut Timor, tetapi juga sejarah panjang perjalanan hubungan rakyat Timor dan Australia. Hal itu perlu dicamkan dengan baik oleh Duta Besar Australia untuk Indonesia yang baru menjabat, Gary Quinlan, sehingga perlu lebih cermat dan waspada.
“Dubes yang baru tersebut harus lebih cermat untuk melihat berbagai proses yang sudah menambah penderitaan rakyat Timor dan masyarakat Indonesia secara umum,” tegasnya.

Kemarin, Gary melakukan kunjungan kehormatan kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla sebagai bagian dari tugasnya menggantikan Paul Grigson.

Ferdi menambahkan hubungan rakyat Timor sudah ada dalam sejarah tentang James Cook, yang juga Bapak Bangsa Australia James Cook, ketika pada tahun 1770 dengan kapal Endeavour yang sudah robek layarnya. Kapal yang sudah berbulan-bulan dalam pelayaran dari Papua Guinea itu berharap bisa mendapat pertolongan dari masyarakat Timor Barat. Persiapan makanan hampir hab is dan anak buah kapal banyak yang sakit karena kurang gizi, lalu ditolong Raja Sabu Ama Doko Lomi Djara karena pertimbangan kemanusiaan.

Ketika James Cook hendak berangkat dari Pulau Sabu, Raja Sabu mengisi kapal Endeavour dengan 9 ekor kerbau, 6 ekor domba, 3 ekor babi, 30 pasang unggas, jeruk, kelapa, telur, bawang putih, serta ratusan galon gula cair.
"Banyak catatan sejarah lain, seperti Kapten William Bligh pada 1789, yang menyinggahi Kupang dan mendapatkan pertolongan," ujarnya.

Sayangnya, kata dia, perlakuan Pemerintah Australia terhadap orang Timor Barat, Rote Ndao dan Sabu sangat bertolak belakang dengan realitas kemanusiaan yang sedang dihadapi saat ini. Wilayah Laut Timor yang sangat kaya sumber daya alam itu, hampir 85 persen dicaplok sepihak oleh Australia untuk menguras kekayaannya. Lebih dari itu, ribuan nelayan tradisional Indonesia diusir dan ditangkap lalu dipenjarakan dengan dalil yang sama sekali tidak berdasar.

Padahal, jauh s ebelum Australia menjadi sebuah negara, para nelayan tradisional Indonesia secara turun temurun lebih kurang 500 tahun telah menjadikan kawasan Laut Timor itu sebagai rumah kedua untuk mencari nafkah hidup.


Sumber: BeritaSatu.com Sumber: Google News | Berita 24 NTT

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »