www.AlvinAdam.com

Berita 24 Nusa Tenggara Timur

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

315 TKI dideportasi karena narkoba dan tak punya identitas

Posted by On 19.01

315 TKI dideportasi karena narkoba dan tak punya identitas

Aktivis anti-perdagangan orang yang tergabung alam aliansi Rakyat NTT Mengugat Hentikan Perdagangan Orang mengelar aksi unjuk rasa di Kupang, NTT, Rabu (28/3/2018).
Aktivis anti-perdagangan orang yang tergabung alam aliansi Rakyat NTT Mengugat Hentikan Perdagangan Orang mengelar aksi unjuk rasa di Kupang, NTT, Rabu (28/3/2018). | Kornelis Kaha /Antara Foto

Soal tenaga kerja Indonesia (TKI) tak pernah luput dari sorotan. Beberapa waktu lalu ada Adelina Jemira Sau, TKI ilegal asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diduga korban sindikat perdagangan manusia, tewas di Malaysia pada 10 Februari 2018.

Lalu ada warga Malaysia Datin Rozita Mohamad Ali (44) yang harus men dekam dalam bui selama delapan tahun karena terbukti menganiaya TKI bernama Suyanti Sutrisno (21).

Belakangan sebanyak 315 TKI yang bekerja di Sabah dideportasi Pemerintah Kerajaan Malaysia melalui Pelabuhan Inernasional Tunon Taka Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara pada Kamis (29/3/2018).

Rombongan TKI terdiri dari 206 laki-laki dan 109 perempuan.

Pemulangan terpaksa dilakukan karena masalah narkotika, tak adanya identitas, hingga kasus kriminal lainnya.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Nunukan, Ferry Herling Ishak South, melalui Kepala Unit Tempat Pemeriksaan Imigrasi Pelabuhan Internasional Tunon Taka Kabupaten Nunukan, Nasution, di Nunukan, Jumat (30/3/2018), membenarkan puluhan TKI dideportasi karena kasus narkoba.

"Setiap ada TKI dideportasi ke Nunukan yang tersangkut kasus narkoba didata dan mendapatkan pengawasan khusus oleh aparat kepolisian," ujar Nasution seperti dikutip Suara.com.

Ada 23 TKI yang terlibat penyalahgunaan nark otika yang langsung didata oleh aparat kepolisian setempat dalam rangka pengawasan tersendiri. Pendataan dilakukan guna mengantisipasi para TKI yang dideportasi tersebut mengulangi perbuataannya selama berada dalam penanganan Balai Pelayanan, Penempatan dan Perlindungan TKI (BP3TKI).

Lalu ada sekitar 290 TKI lainnya yang dideportasi karena kasus dokumen keimigrasian, yakni tidak memiliki paspor yang sah selaku pendatang asing di negara itu. Lalu dua orang lagi dipulangkan karena tersangkut kasus kriminal umum.

Para TKI yang tak memiliki dokumen banyak yang telah berusia 20 tahun ke atas dan menyebutkan bahwa orang tua mereka telah bekerja di Malaysia secara ilegal selama puluhan tahun. Alhasil, anak-anak dari para TKI itu pun tak memiliki surat kelahiran atau identitas apapun sehingga kesulitan mendapatkan dokumen kependudukan Malaysia atau paspor Indonesia.

"Memang ada 75 TKI dideportasi (Kamis 29/3) tercatat lahir di Sabah (Malaysia). Mereka tidak punya dok umen keimigrasian atau paspor karena tidak punya bukti lahir atau kedua orang tuanya pun tidak memiliki paspor," ujar Nasution seperti dikutip BeritaSatu.

Lalu ada juga dua orang yang tercatat pernah terlihat kasus kriminal umum.

Sekitar 234 TKI diketahui berasal dari wilayah kerja Konsulat Jenderal RI Kota Kinabalu dan 81 orang berasal dari wilayah kerja Konsulat RI Tawau.

Meskipun berasal dari wilayah kerja berbeda dan lama menetap di negeri orang, para TKI ini diwajibkan untuk menghafal Pancasila dan lagu "Indonesia Raya" ketika tiba di Tanah Air.

"Kegiatan menyanyikan lagu-lagu kebangsaan sudah lama dilakukan kepada TKI deportasi agar jiwa nasionalisme dan cinta tanah air tetap dimiliki walaupun bekerja di luar negeri," ujar Nasution kepada Republika.

Setelah diwawancara, diketahui bahwa ada 209 orang yang ingin kembali bekerja di negeri jiran tersebut. Kemudian sebanyak 41 orang ingin kembali ke kampungnya dan 65 orang meng ambil kesimpulan untuk mencari pekerjaan di Kabupaten Nunukan.

Protes rakyat NTT

Sementara itu, pada Rabu (28/3), masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) melakukan aksi solidaritas bersama korban Pekerja Migran dari NTT untuk menentang perdagangan orang di depan Kepolisian Daerah (Polda) NTT.

Demo tersebut dilakukan sebab, berdasarkan data Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), angka kematian buruh migran asal NTT melonjak tajam dalam empat tahun terakhir.

Sepanjang tahun 2017, mengutip data Migrant Care, 62 TKI asal provinsi tersebut tewas di Malaysia. Sebanyak 45,2 persen di antara mereka wafat karena sakit.

Sementara itu, pada periode Januari-Februari 2018, Kepala Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI (BP3TKI) NTT, Tato Tirang, kepada Tribunnews mengungkapkan, sudah 21 TKI asal NTT yang meninggal di Malaysia.

Untuk itu menggambarkan tingginya angka kematian tersebut, para demonstran membawa sejum lah peti mati berwarna hitam dalam unjuk rasa itu.

Selain di depan Polda NTT, massa yang merupakan gabungan dari 94 organisasi ini berarak melakukan aksi mereka di depan Kantor Pengadilan Tinggi, DPRD, Kejaksaan Tinggi, dan berakhir di Kantor Gubernur NTT.

Seperti dilansir PGI, ada tiga butir tuntutan yang disuarakan oleh masyarakat NTT, yaitu moratorium pengiriman pekerja migran ke Malaysia, tangkap dan adili mafia perdagangan orang, serta pejabat publik yang mendiamkan pelaku perdagangan orang adalah bagian dari kolonialisme sehingga harus diturunkan dan dipenjarakan.

Peserta aksi meminta agar pemerintah daerah di NTT segera menyatakan bahwa NTT adalah provinsi darurat perdagangan orang.

Gubernur Frans Lebu Raya, dikabarkan Indopos, menjelaskan Pemprov NTT telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) dan Layanan Terpadu Satu Atap (LTSA) untuk mencegah terjadinya tindak pidana perdagangan orang. Ia berharap sistem yang baru ini dapat mengurangi perdagangan man usia di provinsi yang dipimpinnya.

Sumber: Google News | Berita 24 NTT

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »