www.AlvinAdam.com

Berita 24 Nusa Tenggara Timur

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Muslim Indonesia di Jerman Bangun Sekolah di Lembata NTT

Posted by On 07.11

Muslim Indonesia di Jerman Bangun Sekolah di Lembata NTT

LEMBATA (KRjogja.com) â€" Kualitas dunia pendidikan di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) yang rendah dan diskriminatif merupakan masalah yang tak kunjung usai. Hal ini dapat mempengaruhi kualitas regenerasi kepemimpinan di wilayah tersebut jika tak diselesaikan.

Seperti yang dialami anak-anak di Desa Dikesare, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata, yang harus mengalami diskriminasi dalam mendapatkan pendidikan, khususnya pendidikan keagamaan.

Untuk menyelesaikan masalah tersebut, Aksi Cepat Tanggap (ACT) melalui Program 100 Pulau Tepian Negeri bersama para mitranya terus menggenjot program yang menyasar wilayah tertinggal dan terpencil di Indonesia ini, terutama di timur Indonesia. Salah satu target dari program ini adalah majunya pendidikan di wilayah Nusa Tenggara Timur.

Saat ini ACT berkolaborasi dengan Forum Komunikasi Masyarakat Muslim Indonesia s e-Jerman (Forkom Jerman) membangun Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS Manahil) Al Irfan Di Desa Dikesare, Forkom adalah komunitas diaspora Indonesia terbesar di Jerman yang terdiri dari profesional, pelajar, dan masyarakat umum, yang telah lama bermukim di Jerman.

Di Desa Dikesare NTT ini sendiri dihuni sekitar 426 jiwa, dengan komposisi penduduk muslim 94 jiwa, Kristen protestan 5 jiwa, Katolik 327 jiwa. Penguasa lahan atau yang menjadi tuan tanah di desa ini adalah Suku Paliwala, yang 90 persen dari total penduduk desa, sisanya pendatang.

Menurut Moh. Faisol Amrullah dari Tim ACT, Forkom telah menjadi mitra strategis ACT di Jerman selama lebih dari tiga tahun. ACT bekerja sama dengan Forkom untuk sejumlah program-program kemanusiaan seperti Global Qurban dan Global Wakaf, ziswaf (zakat, infak, sedekah, wakaf), dan Program 100 Pulau Tepian Negeri.

“Saat ini, Forkom tengah membangun dua ruang kelas MIS Manahil di Desa Dikesare, Kecamatan Lebatukan, Kabup aten Lembata. Ke depan kita harapkan tak ada lagi diskriminasi pendidikan atau kualitas pendidikan yang rendah,” terang Faisol dalam rilisnya.

Faisol menambahkan, Program 100 Pulau Tepian Negeri ini merupakan salah satu program masterpiece ACT yang mendapat perhatian besar diaspora Indonesia. Forkom bersama ACT ingin memujudkan mimpi-mimpi putra-putri bangsa yang tinggal di daerah pelosok negeri Indonesia, untuk memiliki sekolah yang layak untuk menuntut ilmu.

Pembangunan sekolah ini merupakan bagian dari proyek besar Pembangunan Integrated Community Center (ICC) ACT di desa tersebut. Nantinya, kompleks tersebut akan meliputi pembangunan fasilitas lainnya serta pemberdayaan masyarakat desa.

“Kompleks pendidikan terpadu ini nantinya akan meliputi asrama putra dan putri, ruang kelas Madrasah Aliyah, ruang kelas Madrasah Ibtidaiyah, ruang guru dan perpustakaan Madrasah Ibtidaiyah, ruang kelas Madrasah Aliyah, ruang guru dan perpustakaan Madrasah Aliyah , masjid beserta tempat wudu terpisah, rumah tenaga pengajar, dan klinik,” terang Dede Abdurrochman, Koordinator Tim Implementator Program 100 Pulau Tepian Negeri.

Menurut Dede target penyelesaian pembangunan ini rampung dalam dua pekan. Pembangunan sekolah ACT ini diharapkan bisa menjadi pusat dakwah dan pendidikan agama Islam bagi kaum muslim di wilayah tersebut. (*)

Sumber: Google News | Berita 24 NTT

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »